Selasa, 16 Februari 2021

Teks Khutbah Idul Fitri 2007

Hadirin-hadirat yang berbahagia.

Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idhul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa. Kita menangis karena mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan kita, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan hujan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.

Baru saja kita meninggalkan rumah kita dengan iringan takbir. Baru saja kita melanjutkan takbir di mesjid ini. Baru saja kita bersama-sama mengangkat tangan berulang kali mengucapkan Allahu Akbar. Baru saja kita meratakan dahi kita diatas sajadah sambil mengumamkan Subhana Rabbiyal ‘Ala wa bi hamdih. Sekarang kita duduk bersimpuh di halaman kebesaran Allah SWT. Marilah kita rasakan semilir angin pagi mengusap muka kita. Marilah kita rasakan hangatnya matahari pagi merambat pada setiap pori-pori kulit kita. Marilah kita hirup wewangian surgawi yang memancar dari keberkahan Idul Fitri.

Jumat, 16 Agustus 2019

Nasib Pendidikan di Era Disrupsi


Perjalanan cukup panjang selama melakukan penelitian tentang pendidikan, (saya) sampaikan di media ini hanya sekedar curah keprihatinan (saya) yang juga sebagai pengajar.  Mutu pendidikan tak lepas dari lembaga pendidikan itu sendiri, berangkat dari kesadaran individu dan memulai kesadaran kolektif lembaga akan terlihat jelas bagaimana lembaga pendidikan itu terlihat mutu-nya dikemudian hari.  Ada beberapa main-factor yang bekerja dan berpengaruh dalam hal ini, yaitu pimpinan (kepala sekolah) dan pengawas (assesor).  Pimpinan lembaga pendidikan (kepala sekolah) dituntut bukan hanya cerdas, cekatan, terampil dalam hal manajerial, namun juga kemampuan (ability) untuk menangkap perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat tak terduga. Banyak kepala sekolah yang hebat, namun sedikit atau beberapa kepala sekolah yang bereputasi jelek atau pendek kata "stupid", akan menghambat luaran pendidikan nasional.  Assesment kepala sekolah memang sudah seharusnya diperketat, namun apa daya pada akhirnya kembali berpulang kepada pengambil kebijakan, dalam hal ini kemendikmen/diknas dan kementerian agama.  Ada beberapa lembaga pendidikan formal negeri yang (saya) temui pada saat penelitian (rentang 2017 - 2019).  Bermula hanya mengambil sampel penelitian untuk kegiatan pembelajaran kimia di beberapa sekolah maupun madrasah, namun potongan fakta yang saya temui justru menyedihkan terkait peran kepala sekolah dalam ikut memundurkan pendidikan. Contohnya adalah tindakan yang tidak menyenangkan (bullying) yang diterima oleh guru kritis, cerdas, berprestasi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Alasannya bermacam-macam, karena mengkritik kebijakan sang kepala, merasa tersaingi, hingga urusan personal yang semestinya tidak terjadi mengingat kepala sekolah harus memiliki figur humanis, cerdas sosial dalam merangkul semua anak buahnya.

Minggu, 21 Januari 2018

Konsep TPACK Pada Dunia Pendidikan

Jurnal penelitian dari Mishra dan Koehler (2006) dengan judul Technological Pedagogical Content Knowledge : A framework for Teacher Knowledge, sampai saat ini telah menjadi acuan oleh banyak peneliti dan praktisi pendidikan dalam upaya mengembangkan beberapa model pembelajaran.  Istilah yang kemudian dikenal dengan TPACK (Technological, Pedagogical, Content Knowledge) adalah sebuah framework (kerangka kerja) dalam mendesain model pembelajaran baru dengan menggabungkan tiga aspek utama yaitu teknologi, pedagogi dan konten/materi pengetahuan (ontologis).
Kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya, adalah sebuah keniscayaan bahwa guru harus menguasai teknologi untuk kemudian digunakan sebagai media pendukung dalam kegiatan pembelajaran.  Beberapa contoh penerapan teknologi dalam pembelajaran adalah seperti gagasan yang ditawarkan oleh NACOL (North American Council for Online Learning), yaitu model pembelajaran campuran (blended learning).  Pada model ini pembelajaran tidak terfokus pada kegiatan tatap muka dikelas (face to face), tetapi menggunakan juga teknologi berbasis web (online learning) untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dikelas.  Blended learning akhirnya menjadi model pembelajaran yang cukup efektif,  suasana yang jenuh belajar dikelas dapat diatasi dengan kegiatan belajar yang menyenangkan dan interaktif secara online.  Penggunaan teknologi yang  berbasis web ini mungkin terbilang cukup mahal, karena membutuhkan perangkat elektronik seperti komputer, laptop ataupun smart phone.  Namun teknologi yang dimaksudkan dapat juga berupa alat-alat peraga (tools) hasil pengembangan kreatifitas para guru, dan tetap mengacu pada kebaruan teknologi. 

Senin, 11 September 2017

Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme

Diantara judul lagu Iwan Fals yang menjadi hit pada  era tahun 90-an adalah ; “Antara aku, kau dan bekas pacarmu”.   Judul yang unik ini menjadi inspirasi bagi penulis untuk membuat  judul artikel yang telah tersebutkan diatas yaitu ; “Antara Tuhan, Ilmu Pengetahuan Alam dan Komunisme”.   Penulis mengajak untuk mem-browsing kembali tentang ke-Tuhanan, perkembangan terakhir Ilmu Pengetahuan alam (Natural science) dan bergairahnya faham komunisme yang mulai terlihat di beberapa situs jejaring sosial facebook atau beberapa tulisan para bloger di dunia maya.
Ke-Tuhanan adalah sebuah ungkapan keyakinan kepada Sang “pengada” yakni Tuhan.  Keyakinan kepada Tuhan ini lantas diikuti dengan berbagai ritual ke-agamaan (ibadah) sebagai wujud, tunduk dan patuh terhadap segala yang diperintahkan.  Keyakinan kepada Tuhan tidak lepas oleh pembawa risalah yaitu para Nabi dan Rasul yang diutus-Nya  bersama kitab suci, untuk kemudian memberi petunjuk/hidayah kepada seluruh umat manusia.  Kita mengenal pembawa risalah, diantaranya Isa al masih (Nasrani) dan Muhammad SAW (Islam). 

Pisah Kenang Menteri Pendidikan Nasional Muhamad M. Nuh

Ciri masyarakat terdidik itu tidak dengan gelar-gelar, entah itu profesor, doktor, tetapi lebih fungsional. Ciri pertama, apakah orang itu kalau dihadapkan pada suatu persoalan, pola pikirnya seperti apa?. Kalau pola pikirnya how to solve the problem, menurut saya, itu sudah memenuhi kriteria well educated. Namun, kalau pola pikirnya how to create the new problem, maka meskipun dia profesor, meskipun dia doktor, dia belum well educated. Ada orang: apabila menemukan persoalan, dia bukan mencari solusi terhadap persoalan, tetapi persoalannya yang dipersoalkan. Karena tak bisa menyelesaikan, maka persoalannya dipersoalkan. Kami tak ingin itu, sebab rumus.kebutuhan persoalan itu adalah penyelesaian Ciri ke-2 0rang/masyarakat yang well educated, jika menyelesaikan persoalan, biayanya rendah, baik society, political, maupun economical cost-nya. Kalau biaya penyelesaiannya mahal, berarti masyarakat itu belum well educated sebab masih ada cost effectiveness. Cirike-3, dalam selesaikan persoalan,the society yang well educated tak mau menabrak aturan/segala etika terkait dengan kesepakatan nilai-nilai kemuliaan. Jika dengan biaya rendah, dalam penyelesaian persoalan harus menabrak aturan sampai etika, masyarakat itu pun belum termasuk kategori well educated.